Tahun 2014 yang kerap disebut sebagai
tahun politik jadi momentum untuk berinvestasi di sektor properti.
Kondisi makro ekonomi yang kurang bagus dan melemahnya nilai tukar
rupiah membuat tertahannya kenaikan harga properti. Menurut Aleviery
Akbar, Associate Director Residential Sales & Leasing Colliers
International, saat ini banyak developer tidak mau menaikkan harga
karena takut produknya tidak terserap pasar. Selain itu proyek-proyek
yang komponen impornya tinggi banyak yang ditunda. “Investor yang
mengetahui keadaan ini akan membelanjakan dananya karena harga lagi
bagus,” katanya saat pemaparan kilas balik kondisi properti 2013 dan
prospek 2014, di Jakarta, Selasa (7/1).
Pelambatan sektor properti diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Saat ini para pelaku ekonomi termasuk pengembang masih wait and see menunggu hajatan Pemilu 2014, pemilihan presiden, dan terbentuknya pemerintahan baru. Kalau Pemilu berlangsung aman dan pemerintahannya kredibel kondisi perekonomian bakal cepat pulih. “Kondisinya sama dengan tahun 2004, satu tahun setelah Pemilu sampai 2010 perekonomian membaik dan sektor properti langsung melesat,” katanya.
Apartemen dan landed house (rumah tapak) jadi pilihan investasi paling menjanjikan. Permintaan terhadap dua jenis hunian ini cukup tinggi dan capital gain-nya besar. YI
Sumber : http://www.housing-estate.com/
Pelambatan sektor properti diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Saat ini para pelaku ekonomi termasuk pengembang masih wait and see menunggu hajatan Pemilu 2014, pemilihan presiden, dan terbentuknya pemerintahan baru. Kalau Pemilu berlangsung aman dan pemerintahannya kredibel kondisi perekonomian bakal cepat pulih. “Kondisinya sama dengan tahun 2004, satu tahun setelah Pemilu sampai 2010 perekonomian membaik dan sektor properti langsung melesat,” katanya.
Apartemen dan landed house (rumah tapak) jadi pilihan investasi paling menjanjikan. Permintaan terhadap dua jenis hunian ini cukup tinggi dan capital gain-nya besar. YI
Sumber : http://www.housing-estate.com/